Selasa, 01 November 2011

Titik-titik sinar



“Hai,” pria berjubah hitam dan berwajah putih pucat itu menghampiri seorang pemuda. Dia dengan kepala plontosnya tersenyum. Namun senyumannya lebih tampak seperti seringai.
“Apa maumu?” pemuda itu menjawabnya dengan nada sinis. Surban putihnya rapi melilit kepalanya yang ditumbuhi rambut panjang sebahu. Pakaiannya putih bersinar menjuntai ke bawah.
Pria berjubah hitam itu malah tertawa mendengar pertanyaan sinis pemuda itu. Namun tawanya terdengar seperti pangeran kegelapan yang sebentar lagi menguasai dunia. “Tidak. Tidak. Aku tidak ingin apapun darimu.”
“Lalu apa yang kau lakukan di sini?” pemuda itu memandang dengan sudut matanya.
“Hanya menikmati kerlap-kerlip bintang,” pria itu memandang ke atas berusaha menirukan pemuda di sampingnya. “Sepertimu,” dia menambahkan.
Kini pemuda itu terdiam. Dia yang dari tadi memandangi kerlap-kerlip bintang berusaha menemukan jawaban atas keputusasaannya, sekarang harus menanggapi pria menjengkelkan yang tak pernah diharapkannya itu.
“Pergilah,” dia mengusir pria di sampingnya itu. Namun suaranya masih terdengar lembut. Tak ada hentakan. Kini dia sudah mulai kehilangan kesabaran melihat pria berjubah hitam yang tampak berusaha menirukan ekspresi wajahnya dan posisi duduknya yang memeluk kedua lutut kaki.
Pria berjubah hitam itu tersenyum lagi. Namun masih tampak seperti seringai. “Hai, kawan,” kini dia menirukan gaya bicara pemuda itu. Dia selalu mengawali kata-katanya dengan kata dan logat yang hampir sama. “Kau bukan siapa-siapa. Kau tidak berhak mengatur siapapun,” dia berusaha bersikap ramah yang tampak dibuat-buat.
Pemuda itu tampak semakin jengkel. “Aku bukan kawanmu. Aku tidak akan sudi menjadi kawanmu,” kini topik pembicaraan mengarah seperti yang diinginkan pria berjubah hitam itu.
“Ya. Aku tahu itu. Tapi kawanmu yang kini tertidur pulas itu sepertinya mau jadi kawanku.”
“Jangan mimpi.”
Pria itu tertawa semakin terbahak-bahak. “Apa? Mimpi katamu? Aku tidak bermimpi. Kau lihat bukan tadi saat aku membujuknya? Dia dengan senang hati melakukannya untukku,” dagunya terangkat dan telunjuknya yang keriput dan kukunya yang hitam panjang menunjuk ke dadanya.
Pemuda itu terdiam. Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi. Lihat saja.
“Betapapun kau berusaha untuk menasehatinya, kau tidak akan bisa. Aku bahkan bisa masuk ke dalam mimpinya sekarang juga jika aku mau. Dan aku bisa membujuknya dengan sangat mudah. Aku bisa membujuknya melakukan sesuatu yang ku inginkan. Agar dia nanti bisa mengikutiku dan…”
“Diam!” kesabaran pemuda itu sudah mulai habis.
“Kau tidak akan bisa mejadikannya budakmu! Hanya kau dan teman-teman busukmu yang lain yang akan terbakar api neraka jahanam!” mata pemuda itu melotot. Mukanya bergetar menahan marah. Kini dia sudah berdiri dengan tangan mengepal.
Pria itu ikut berdiri. Dagunya terangkat. “Kenapa kau begitu yakin?”
“Karena langit akan membantuku,” pemuda itu telunjuknya mengarah ke rasi bintang yang berkerlap-kerlip tiada hanti. Menyaksikan perdebatan sengit dua makhluk itu.
“Apa yang langit bisa lakukan untukmu?”
“Banyak. Tentu saja jika kau bisa memikirkannya. Namun sayang, otakmu yang sudah busuk itu tidak akan bisa menyadarinya.”
Kini pria itu menampakkan seringainya. Bukan senyum yang dibuat-buat lagi.
“Menyadarinya? Seharusnya kau yang harus sadar. Perjuanganmu hanya akan membuahkan sia-sia belaka. Kau sudah lihat bukan? Berapa kali usahamu gagal? Berapa kali tenagamu terbuang sia-sia? Dan kelamaan kau hanya akan menjadi onggokan kotoran busuk yang tak berguna.”
“Cukup! Kau tidak akan bisa membujukku! Sekali pun. Tidak akan pernah.”
“Ya. Memang. Tapi kini aku semakin mudah membujuknya. Dan kau tahu apa kabar baiknya? Jika dia melakukan sesuatu yang kuinginkan, kekuatanku akan bertambah. Kau tahu itu. Dan kau tahu bukan kabar baik yang lain? Kekuatanmu akan semakin berkurang. Dan akhirnya lama kelamaan kau hanya akan menjadi sampah tak berguna seperti temanmu yang lain.”
Pemuda itu terdiam. Terbungkam mulutnya. Satu kata pun kini tak bisa diucapkannya. Bukan karena tidak bisa membalas cemoohan pria itu, namun karena cemoohan pria itu yang tak terbantahkan. Dan pikirannya melesat menuju kenangan-kenangan pedih yang membuatnya pilu sepanjang malam.
Dengan terus memandang tajam lelaki plontos yang ada di depannya, tubuhnya terkikis dan menjelma menjadi titik-titik sinar mirip kunang-kunang yang sedikit demi sedikit meninggalkan tempatnya beterbangan menuju arah angin yang berhembus menjauhi lelaki berkepala plontos itu. Makin lama titik-titik cahaya itu semakin bertambah banyak seiring dengan gerak perlahan hembusan angin malam. Titik-titik sinar itu tampak begitu redup bahkan dengan kegelapan malam yang menyelimuti.
“Sampai bertemu kembali,” lelaki berkepala plontos itu menyeringai.
Titik-titik sinar itu terbang membelah kegelapan malam. Mengikuti ke mana pun angin membawanya. Angin berhembus lembut turun menuju jalanan. Rumah-rumah yang berjejeran di samping kanan kirinya menyambut mereka. Begitu juga pengemis dengan pakaian compang-campingnya yang tertidur pulas. Di atas kepalanya beberapa titik-titik sinar melayang-melayang lemah. Titik-titik sinar itu juga tampak redup. Bahkan lebih redup dari titik-titik sinar yang kini beterbangan mengikuti arah angin. Dan jumlahnya juga lebih sedikit.
Angin terus menghembuskan titik-titik sinar itu. Beterbangan di atas jalan lengang. Angin itu berusaha menghibur titik-titik sinar itu dengan beputar-putar berpilin mengelilingi tiang penyangga lampu. Setelah itu masuk ke sebuah rumah lewat celah-celah lubang ventilasi. Angin itu membawanya ke sebuah kamar tidur seorang anak kecil yang kini tertidur nyaman dengan kasur empuk yang dibalut selimut hangat.
Titik-titik sinar lain sedang beterbangan riang di bawah sorotan lampu tidur. Titik-titik sinar itu tampak sedang berkejar-kejaran satu sama lain. Terkadang sesekali mereka tak sengaja bertubrukan. Setelah itu kembali dengan riang saling mengejar.
Setelah puas melihat titik-titik sinar yang beterbangan riang, angin itu menghembuskan titik-titik sinar yang dari tadi bersamanya keluar melewati lubang ventilasi yang sama saat mereka masuk. Kembali menuju jalanan yang lengang.
Tampak seorang pemuda berjalan di trotoar. Dia berambut panjang berombak menjuntai kerah jubah hitamnya. Syal tebal diikatkan di sekeliling lehernya. Tangannya dimasukkan ke kantong jubah berusaha menyembunyikan tangannya dari terpaan udara dingin yang menusuk-nusuk tulang. Titik-titik sinar lain melayang tenang di atas kepalanya. Mengikuti gerakan langkahnya yang pelan. Titik-titik sinar itu berpendaran cahaya. Menyinari sekujur tubuh pemuda itu.
Angin menghembuskan titik-titik sinar itu menuju ke arah pemuda yang terus melangkahkan kakinya. Angin yang membawa titik-titik sinar itu berhembus menuju rambut berombak pemuda itu dan membuat titik-titik sinar itu terbang ke atas berbaur dengan titik-titik sinar lain yang melayang tenang. Formasi yang sudah tersusun rapi seketika kacau balau karena kedatangan titik-titik sinar itu.
Pemuda itu merapikan rambut berombaknya dan mempercepat langkahnya. Sementara itu, titik-titik sinar yang puas mengacau pergi menjauh. Titik-titik sinar yang ditinggalkannya berusaha mengatur kembali formasinya.
Titik-titik sinar itu semakin menjauh dan semakin menjauh. Melayang ke atas semakin tinggi dan semakin tinggi. Angin terus berhembus ke atas menuju tempat-tempat bintang bertaburan. Titik-titik sinar itu melayang-layang di udara. Kini titik-titik sinar itu tak lagi mengikuti arah angin pergi. Titik-titik sinar itu sudah punya cukup tenaga untuk terbang dengan tenaganya sendiri.
Setelah beberapa saat, titik-titik sinar yang masih nampak redup itu terbang pelan. Kembali menuju tempatnya semula. Lelaki berkepala plontos itu sudah tidak ada. Titik-titik sinar itu masuk ke sebuah ruangan melalui lubang ventilasi. Berhamburan ke dalam.
Tampak seorang remaja tertidur pulas dengan posisi terlentang. Dengkur pelan terdengar dari mulutnya yang menganga lebar. Air liur menetes dari mulutnya. Tangannya tanpa sadar mengusap air liur itu. Setelah itu memperbaiki posisi tidurnya. Meraih gulingnya dengan tetap mengeluarkan dengkur pelannya.
Titik-titik sinar itu menuju lampu tidur yang dinyalakan remang-remang. Bukan untuk bermain kejar-kejaran, namun hanya untuk menenangkan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar