“Hai,”
pria berjubah hitam dan berwajah putih pucat itu menghampiri seorang pemuda.
Dia dengan kepala plontosnya tersenyum. Namun senyumannya lebih tampak seperti
seringai.
“Apa
maumu?” pemuda itu menjawabnya dengan nada sinis. Surban putihnya rapi melilit
kepalanya yang ditumbuhi rambut panjang sebahu. Pakaiannya putih bersinar
menjuntai ke bawah.
Pria
berjubah hitam itu malah tertawa mendengar pertanyaan sinis pemuda itu. Namun
tawanya terdengar seperti pangeran kegelapan yang sebentar lagi menguasai
dunia. “Tidak. Tidak. Aku tidak ingin apapun darimu.”
“Lalu
apa yang kau lakukan di sini?” pemuda itu memandang dengan sudut matanya.
“Hanya
menikmati kerlap-kerlip bintang,” pria itu memandang ke atas berusaha menirukan
pemuda di sampingnya. “Sepertimu,” dia menambahkan.
Kini
pemuda itu terdiam. Dia yang dari tadi memandangi kerlap-kerlip bintang
berusaha menemukan jawaban atas keputusasaannya, sekarang harus menanggapi pria
menjengkelkan yang tak pernah diharapkannya itu.
“Pergilah,”
dia mengusir pria di sampingnya itu. Namun suaranya masih terdengar lembut. Tak
ada hentakan. Kini dia sudah mulai kehilangan kesabaran melihat pria berjubah
hitam yang tampak berusaha menirukan ekspresi wajahnya dan posisi duduknya yang
memeluk kedua lutut kaki.
Pria
berjubah hitam itu tersenyum lagi. Namun masih tampak seperti seringai. “Hai,
kawan,” kini dia menirukan gaya bicara pemuda itu. Dia selalu mengawali
kata-katanya dengan kata dan logat yang hampir sama. “Kau bukan siapa-siapa.
Kau tidak berhak mengatur siapapun,” dia berusaha bersikap ramah yang tampak
dibuat-buat.
Pemuda
itu tampak semakin jengkel. “Aku bukan kawanmu. Aku tidak akan sudi menjadi
kawanmu,” kini topik pembicaraan mengarah seperti yang diinginkan pria berjubah
hitam itu.
“Ya.
Aku tahu itu. Tapi kawanmu yang kini tertidur pulas itu sepertinya mau jadi
kawanku.”
“Jangan
mimpi.”
Pria
itu tertawa semakin terbahak-bahak. “Apa? Mimpi katamu? Aku tidak bermimpi. Kau
lihat bukan tadi saat aku membujuknya? Dia dengan senang hati melakukannya untukku,”
dagunya terangkat dan telunjuknya yang keriput dan kukunya yang hitam panjang
menunjuk ke dadanya.
Pemuda
itu terdiam. Aku tidak akan membiarkanmu
melakukannya lagi. Lihat saja.
“Betapapun
kau berusaha untuk menasehatinya, kau tidak akan bisa. Aku bahkan bisa masuk ke
dalam mimpinya sekarang juga jika aku mau. Dan aku bisa membujuknya dengan
sangat mudah. Aku bisa membujuknya melakukan sesuatu yang ku inginkan. Agar dia
nanti bisa mengikutiku dan…”
“Diam!”
kesabaran pemuda itu sudah mulai habis.
“Kau
tidak akan bisa mejadikannya budakmu! Hanya kau dan teman-teman busukmu yang
lain yang akan terbakar api neraka jahanam!” mata pemuda itu melotot. Mukanya
bergetar menahan marah. Kini dia sudah berdiri dengan tangan mengepal.
Pria
itu ikut berdiri. Dagunya terangkat. “Kenapa kau begitu yakin?”
“Karena
langit akan membantuku,” pemuda itu telunjuknya mengarah ke rasi bintang yang
berkerlap-kerlip tiada hanti. Menyaksikan perdebatan sengit dua makhluk itu.
“Apa
yang langit bisa lakukan untukmu?”
“Banyak.
Tentu saja jika kau bisa memikirkannya. Namun sayang, otakmu yang sudah busuk
itu tidak akan bisa menyadarinya.”
Kini
pria itu menampakkan seringainya. Bukan senyum yang dibuat-buat lagi.
“Menyadarinya?
Seharusnya kau yang harus sadar. Perjuanganmu hanya akan membuahkan sia-sia
belaka. Kau sudah lihat bukan? Berapa kali usahamu gagal? Berapa kali tenagamu
terbuang sia-sia? Dan kelamaan kau hanya akan menjadi onggokan kotoran busuk
yang tak berguna.”
“Cukup!
Kau tidak akan bisa membujukku! Sekali pun. Tidak akan pernah.”
“Ya.
Memang. Tapi kini aku semakin mudah membujuknya. Dan kau tahu apa kabar
baiknya? Jika dia melakukan sesuatu yang kuinginkan, kekuatanku akan bertambah.
Kau tahu itu. Dan kau tahu bukan kabar baik yang lain? Kekuatanmu akan semakin
berkurang. Dan akhirnya lama kelamaan kau hanya akan menjadi sampah tak berguna
seperti temanmu yang lain.”
Pemuda
itu terdiam. Terbungkam mulutnya. Satu kata pun kini tak bisa diucapkannya.
Bukan karena tidak bisa membalas cemoohan pria itu, namun karena cemoohan pria
itu yang tak terbantahkan. Dan pikirannya melesat menuju kenangan-kenangan
pedih yang membuatnya pilu sepanjang malam.
Dengan
terus memandang tajam lelaki plontos yang ada di depannya, tubuhnya terkikis
dan menjelma menjadi titik-titik sinar mirip kunang-kunang yang sedikit demi
sedikit meninggalkan tempatnya beterbangan menuju arah angin yang berhembus
menjauhi lelaki berkepala plontos itu. Makin lama titik-titik cahaya itu
semakin bertambah banyak seiring dengan gerak perlahan hembusan angin malam.
Titik-titik sinar itu tampak begitu redup bahkan dengan kegelapan malam yang
menyelimuti.
“Sampai
bertemu kembali,” lelaki berkepala plontos itu menyeringai.
Titik-titik
sinar itu terbang membelah kegelapan malam. Mengikuti ke mana pun angin
membawanya. Angin berhembus lembut turun menuju jalanan. Rumah-rumah yang
berjejeran di samping kanan kirinya menyambut mereka. Begitu juga pengemis
dengan pakaian compang-campingnya yang tertidur pulas. Di atas kepalanya
beberapa titik-titik sinar melayang-melayang lemah. Titik-titik sinar itu juga
tampak redup. Bahkan lebih redup dari titik-titik sinar yang kini beterbangan
mengikuti arah angin. Dan jumlahnya juga lebih sedikit.
Angin
terus menghembuskan titik-titik sinar itu. Beterbangan di atas jalan lengang.
Angin itu berusaha menghibur titik-titik sinar itu dengan beputar-putar
berpilin mengelilingi tiang penyangga lampu. Setelah itu masuk ke sebuah rumah
lewat celah-celah lubang ventilasi. Angin itu membawanya ke sebuah kamar tidur
seorang anak kecil yang kini tertidur nyaman dengan kasur empuk yang dibalut
selimut hangat.
Titik-titik
sinar lain sedang beterbangan riang di bawah sorotan lampu tidur. Titik-titik
sinar itu tampak sedang berkejar-kejaran satu sama lain. Terkadang sesekali
mereka tak sengaja bertubrukan. Setelah itu kembali dengan riang saling
mengejar.
Setelah
puas melihat titik-titik sinar yang beterbangan riang, angin itu menghembuskan
titik-titik sinar yang dari tadi bersamanya keluar melewati lubang ventilasi
yang sama saat mereka masuk. Kembali menuju jalanan yang lengang.
Tampak
seorang pemuda berjalan di trotoar. Dia berambut panjang berombak menjuntai
kerah jubah hitamnya. Syal tebal diikatkan di sekeliling lehernya. Tangannya
dimasukkan ke kantong jubah berusaha menyembunyikan tangannya dari terpaan
udara dingin yang menusuk-nusuk tulang. Titik-titik sinar lain melayang tenang
di atas kepalanya. Mengikuti gerakan langkahnya yang pelan. Titik-titik sinar
itu berpendaran cahaya. Menyinari sekujur tubuh pemuda itu.
Angin
menghembuskan titik-titik sinar itu menuju ke arah pemuda yang terus
melangkahkan kakinya. Angin yang membawa titik-titik sinar itu berhembus menuju
rambut berombak pemuda itu dan membuat titik-titik sinar itu terbang ke atas
berbaur dengan titik-titik sinar lain yang melayang tenang. Formasi yang sudah
tersusun rapi seketika kacau balau karena kedatangan titik-titik sinar itu.
Pemuda
itu merapikan rambut berombaknya dan mempercepat langkahnya. Sementara itu,
titik-titik sinar yang puas mengacau pergi menjauh. Titik-titik sinar yang
ditinggalkannya berusaha mengatur kembali formasinya.
Titik-titik
sinar itu semakin menjauh dan semakin menjauh. Melayang ke atas semakin tinggi
dan semakin tinggi. Angin terus berhembus ke atas menuju tempat-tempat bintang
bertaburan. Titik-titik sinar itu melayang-layang di udara. Kini titik-titik
sinar itu tak lagi mengikuti arah angin pergi. Titik-titik sinar itu sudah
punya cukup tenaga untuk terbang dengan tenaganya sendiri.
Setelah
beberapa saat, titik-titik sinar yang masih nampak redup itu terbang pelan.
Kembali menuju tempatnya semula. Lelaki berkepala plontos itu sudah tidak ada.
Titik-titik sinar itu masuk ke sebuah ruangan melalui lubang ventilasi.
Berhamburan ke dalam.
Tampak
seorang remaja tertidur pulas dengan posisi terlentang. Dengkur pelan terdengar
dari mulutnya yang menganga lebar. Air liur menetes dari mulutnya. Tangannya
tanpa sadar mengusap air liur itu. Setelah itu memperbaiki posisi tidurnya.
Meraih gulingnya dengan tetap mengeluarkan dengkur pelannya.
Titik-titik
sinar itu menuju lampu tidur yang dinyalakan remang-remang. Bukan untuk bermain
kejar-kejaran, namun hanya untuk menenangkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar