“Tidak! Apa-apaan ini? Ngatur-ngatur! Ini masa depanku. Aku yang akan menjalaninya.”
“Aku ini siapa? AKU BAPAKMU! Kamu anak ingusan nggak tahu apa-apa tentang masa depan. Lihat kakakmu! Dia sekarang hidup bahagia karena mendengarkan omongan bapak.”
“Tidak! AKU TIDAK AKAN JADI PEGAWAI BEA CUKAI! TITIK!
“HEH! Kamu punya apa? Hah? Siapa yang akan membiayai kuliah kamu kalau bukan bapak? Kakakmu itu sekarang hidupnya benar-benar…”
“HAAAHH! OMONG KOSONG! Aku akan kuliah dengan uangku sendiri!”
“HAAAHH! OMONG KOSONG! Aku akan kuliah dengan uangku sendiri!”
“ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG! UANGMU? SELAMA INI KAU HIDUP DENGAN UANGKU! Kamu tuh nggak punya apa-apa. Kalau tidak ada aku, kamu sama ibumu yang gila itu cuma akan jadi gembel di jalanan.”
Dia dengan kesal segera menyambar jaket balap merahnya. Dompet segera dimasukkan dalam saku celana belakang. Handphone. Apapun yang diperlukan. Apapun yang diperlukan untuk menghadapi malam ini.
Masuk ke kamar. Tas punggung disambarnya. Dimasukkannya beberapa buku. Bukan pakaian. Bukan perhiasan. Itulah benda-benda berharga yang dimilikinya. Aku akan buktikan bahwa aku bisa. Dia kira bisa mengatur masa depanku. Dia tidak akan bisa. Aku yang akan menentukannya sendiri.
Segera dia beranjak menuju motornya. Melewati kamar ibunya. Ibunya seakan menatapnya. Tatapan kosong. Seakan ingin mengatakan sesuatu. Dia miris melihat ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menangis pun tidak bisa. Suatu saat aku akan membawamu bersamaku ibu. Keluar dari penjara terkutuk yang dia sebut rumah ini. Kau akan lihat betapa anakmu bisa dibanggakan ibu. Aku berjanji.
Motornya menderu keras melewati halaman rumah hingga akhirnya semakin menjauh dan menjauh. Derunya semakin lirih terdengar. “JANGAN KEMBALI!” Dari kejauhan terdengar suara bentakan. Tidak. Aku akan kembali. Dan kau akan menyesal telah mengusirku. Aku akan lihat penyesalanmu. Dan aku akan menjemputmu ibu.
Di sebuah warung makan. Dia membanting tas punggungnya. Rambut diremasnya. “HAAHHH…”
“Pesan apa mas?”
“Hmmh… Kopi, bu.”
“Hmmh… Kopi, bu.”
“Ehmm… Ya… Bentar ya mas… Seperti biasanya mas?”
“Iya…”
Ya. Memang warung itu sudah menjadi langganannya. Dan ibu itu tahu betul apa selera anak muda ini. Kopi serbuk klasik dengan gula satu sendok kecil.
Kini di kepalanya hanya ada umpatan. Lagipula dia bukan bapakku. Bahkan aku tidak pernah memanggilnya bapak dengan tulus. Kalau bukan ibu yang memohon, aku tidak akan memanggilnya dengan panggilan yang sama sekali tidak pantas untuknya itu.
Sejak kepergian bapak kandungnya, keadaan keluarganya menjadi kacau balau. Sepuluh tahun yang lalu. Kecelakaan pesawat terbang tega merenggut nyawa bapak yang disayangnya itu. Satu-satunya tulang punggung keluarga telah hilang. Semua menjadi kacau balau. Termasuk perekonomiannya.
Ibunya pun yang tidak pernah bisa hidup tanpa suaminya itu menjadi lemas tak berdaya. Berhari-hari ibunya sakit-sakitan. Hingga datanglah seorang duda beranak satu. Dia kaya. Serba berkecukupan. Entahlah apa yang dilakukannya sehingga ibunya terkena bujuk rayu duda itu.
Haikal yang waktu itu masih kanak-kanak tidak pernah bisa berontak. Hanya bisa menangis. Mengadu. “Aku mau bapak. Bukan dia.”
“Dia bapak kamu sayang,” sambil mengusap air mata ibu menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
“Dia bapak kamu sayang,” sambil mengusap air mata ibu menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
“Bukan. Dia bukan bapak.”
“Hmmmh…” desah memliukan terdengar di balik uap yang mengepul dari gelas kopinya. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin dia sedang memikirkan bagaimana dia akan menaklukkan malam ini. Menguak misteri kegelapan malam.
“Hallo. Kamu di rumah nggak? Hari ini aku pengen nginep di rumah kamu.”
“Ya… Ya… Boleh…” Terdengar dari balik handphone suara yang tidak asing baginya. Mereka memang teman akrab. Saling tahu satu sama lain. Termasuk tentang masalah yang sedang dihadapinya kini. Di kejauhan dia menyeringai tipis. Pasti dia bertengkar lagi dengan ayah tirinya itu.
Puas menikmati kopi kesukaannya dia segera menghidupkan motornya dan meninggalkan warung itu. Motornya menderu keras. Melaju kencang. Di jalanan yang lengang dia menarik gas sejadi-jadinya. Melampiaskan amarahnya. Angin malam yang kian dingin menusuk tulang tidak dipedulikannya.
Tiba-tiba muncul sesosok bayangan hitam. Haikal terkejut. Seketika dia membanting stangnya. Dia hilang keseimbangan. Namun segera dikendalikannya. Segera dia menyandarkan motornya dan menghampiri seseorang yang ditabraknya barusan.
Dia meringis kesakitan. Segera Haikal mengambil sapu tangan yang berada di sakunya. Setidaknya darahnya tidak bercucuran semakin deras.
“Ehmm… Maaf… Maaf…”
Dia tetap meringis kesakitan.
“Mari saya antar ke rumah. Rumah kamu di mana?”
Dengan meringis kesakitan, dia berusaha berdiri. Dia menunjuk sebuah gang kecil.
“Ehmm… Baiklah… Mari ku bantu.”
Dengan bahunya dia membantu seseorang yang masih saja meringis kesakitan itu. Tidak jauh dari jalan raya melewati gang kecil ada sebuah rumah tua yang sepertinya sudah lama ditinggal pemiliknya. Haikal pun heran dia menunjuk rumah itu. Menunjukkan itulah tempat tinggalnya. Sesudah menyandarkan orang itu di teras depan rumah dia mengambil motornya yang tadi disandarkan di samping jalan raya.
Penampilan orang itu aneh. Dia mengenakan jubah hitam. Kepalanya sempurna gundul. Tidak ada sehelai rambut pun di situ. Tidak ada jambang, tidak ada kumis. Hanya rambut alis yang tidak seberapa yang terlihat. Wajahnya begitu muram. Seakan jiwanya sudah pergi melayang meninggalkan raganya.
“Ehmm… Maaf… Tadi..”
Dia hanya senyum. Walaupun terlihat tulus namun senyum itu tetap hambar. Tangannya menunjuk ke dalam rumah mempersilahkan haikal masuk. Haikal mengangguk. Dengan agak pincang, dia menuju ke belakang. Mengambilkan hidangan untuk tamu yang mungkin tidak disangkanya itu.
Begitu dia membawa dua gelas kopi haikal beranjak dari sofa dan membantu membawakan kopi yang dibawanya dengan agak bergetar itu. Beberapa tetes kopi tumpah. Kopi? Bagaimana orang ini tahu haikal menyukai kopi? Mungkin hanya kebetulan saja. Orang itu mempersilahkan haikal. Dengan ragu-ragu haikal meminumnya. Dan ternyata kopi itu sesuai seleranya. Kopi serbuk klasik dengan gula satu sendok kecil. Kebetulan? Entahlah.
“Terimakasih,” akhirnya orang itu bicara juga.
“Iya… Saya juga minta maaf tadi. Nggak lihat-lihat ada bapak. Ehmm… Tadi bapak mau ke mana?”
Yang ditanya hanya tersenyum. Namun senyumnya tetap hambar.
“Ini untukmu,” orang itu menyodorkan kalung berlogo bintang terbalik dan di dalamnya ada gambar aneh. Di luarnya di kelilingi sebuah lingkaran.” Ini sebagai tanda terimakasihku.
Haikal mengernyitkan dahi. Terimakasih? Dia keheranan melihat kalung itu.
“Kalung itu bisa memberikan sesuatu untukmu.”
Haikal tidak mau ambil pusing kalung berlogo aneh itu. Sesampainya di rumah Ihsan, dia disambut baik oleh sahabat akrabnya itu. Dia yang sudah sering menginap di rumahnya sudah tidak canggung lagi. Dia langsung diajak menuju kamar sahabat akrabnya itu. Dia menceritakan semua. Menyampaikan kekesalannya. Menyumpahi. Mengumpat. Semua yang di pikirannya saat itu dikeluarkan. Termasuk soal ibunya. Termasuk masa lalu yang berulang kali diceritakannya. Ihsan pun tidak bosan-bosan mendengarkan keluh sahabatnya itu.
“Udahlah… Nggak usah dipikirin. Kamu pasti bisa menghadapi semua.”
“Hmmmh…”
“Owh iya… Bagaimana cerpen yang kamu kirim ke redaksi itu? Ada tanggapan?” Ihsan berusaha mengalihkan bahan pembicaraan.
“Ehmm… Aku belum mengirimkannya. Haah… Sudahlah. Aku juga pesimis dengan karyaku itu. Kemarin saja Bu Andrea menertawakan karyaku. Dia bilang bahkan anaknya yang kelas enam SD bisa membuat yang lebih baik. Hmmh…” Haikal semakin tertunduk.
Gagal. Kini pembicaraan kian memburuk. Ihsan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dhuuh… Kenapa malah semakin bertambah buruk.
“Eh, kal… Main game yuk.”
“Nggak ah… Males..”
“Kalo nonton film gimana? Aku punya film bagus.”
“Ehmm… Iya lah… Dari pada bengong terus.”
Entahlah. Malam itu misteri kegelapan malam tidak terpecahkan. Tidak mudah menaklukkan kegelapan malam. Jika semakin menelusuri kegelapan itu, seakan semakin membingungkan. Bahkan penyair pun masih kesulitan menaklukkan kegelapan malam.
Haikal terseok-seok menjalani kehidupan. Tidak ada lagi yang bisa dijadikannya tumpuan hidup. Kecuali sahabatnya itu –yang juga sebatas itulah dia bisa menolong. Keluarga yang jelas sudah tidak bisa dijadikannya tempat untuk tumbuh dengan baik. Ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kepercayaan dirinya yang kian tercabik-cabik. Seakan langit tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk meraih impiannya. Padahal langit juga yang memberikan impian itu. Kini hanya ada gelap gulita. Tak tahu ke mana harus melangkah. Dan dia harus menaklukkan kegelapan itu.
Di pagi yang cerah. Mentari tak bosan-bosan memperlihatkan semangatnya mengarungi hari. Benderang. Namun sayang Haikal sudah kebas dengan itu semua. Terlalu banyak rasa sakit yang sudah dilaluinya. Dan dia tak berdaya menghadapi semua.
Tampak bayangannya di cermin. Dilihatnya, ternyata tidak jauh beda dengan orang yang ditemuinya semalam. Apakah jiwanya juga sudah pergi melayang kehilangan kendali? Entahlah. Dia pun ragu jiwanya masih bersemayam di raga yang kini lunglai kehilangan tenaga itu.
Dia memandangi kalung itu. Berkilau ditempa cahaya mentari pagi. Keren juga. Dipakainya kalung itu. Entah dengan kesadarannya atau tidak.
“Kamu mau ke mana, kal?” Ihsan agak heran melihat sahabatnya bersiap untuk beranjak dari rumahnya itu.
“Aku mau ke rumah paman. Mumpung lagi liburan. Kamu mau ikut?”
“Ehmm… Iya deh. Di rumah juga nggak ada siapa-siapa.”
“Bapak kamu ke luar kota lagi?”
“Iya. Biasalah. Sibuk terus.”
“Ibu?”
“Sama. Kamu tuh kayak nggak tahu bapak ibuku aja.”
Haikal menyeringai tipis. Entahlah. Dia tidak bosan-bosan menanyakan itu.
Jalanan sudah mulai sibuk. Toko-toko mulai buka. Berharap mendapatkan sesuatu hari ini. Haikal dan Ihsan berboncengan menuju rumah paman yang berada di kaki bukit. Sejuk udara di sana mungkin bisa memberi celah untuk kehidupan yang baru.
Dengan perlahan motornya melalui jalan raya yang sudah sibuk dengan segala proses pengembangan investasinya. Lampu hijau dari kejauhan menyala. Haikal segera menginjak rem. Seketika lampu merah menyala. Pengendara lain yang kian kencang memacu motor tak dipedulikannya.
Seorang mahasiswi lewat di depannya. Tiba-tiba terdengar sesuatu berbisik. Hmmh… Tinggal dua hari lagi deadline tesisku. Masih banyak yang harus aku selesaikan. Tapi kenapa ibuku tidak mau mengerti. Bagaimana anaknya bisa konsentrasi kuliah kalau terus diminta pulang. Aku tahu kalau ibu… Suara itu semakin lirih terdengar. Semakin lirih dan semakin lirih hingga akhirnya lenyap.
“Heey… Ngelamun kamu ya…”
Lampu hijau sudah menyala beberapa detik yang lalu dan kini bersiap bergantian dengan lampu merah. Haikal segera memacu motornya dengan masih keheranan. Apa yang baru saja didengarnya?
Lampu merah kedua. Kali ini lampu merah masih menyala. Motor berhenti. Ada wanita paruh baya lewat di depannya. Ehmm… Mungkin anakku benar. Panti jompo bukan tempat yang buruk. Aku bisa mendapatkan teman-teman baru di sana.Hari-hariku akan lebih menyenangkan. Lagi pula anakku satu-satunya itu juga sudah sibuk sekarang. Tapi dia harus berjanji seminggu sekali dia harus menengokku. Aku membesarkannya bukan untuk… Semakin lirih dan semakin lirih hingga akhirnya lenyap
Dia memandangi wanita paruh baya itu dengan keheranan. Mungkinkah aku bisa membaca pikiran orang? Aaahhh… Tidak mungkin… Mungkin hanya perasaanku saja.
”Whooii… Ngelamun lagi,” Ihsan mulai bosan mengingatkan.
Haikal segera memacu motornya tanpa mempedulikan Ihsan yang dari tadi bersungut-sungut.
Sesampainya di rumah paman, ihsan memarkir motornya. Dan seketika itu juga paman menghampiri orang yang sepertinya dia kenal itu. Dengan mengernyitkan dahi, paman memandangi Haikal dan Ihsan yang kian mendekat.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Owh… Haikal… Kirain siapa. Tumben kal kamu mau datang?”
“Wa’alaikumsalam. Owh… Haikal… Kirain siapa. Tumben kal kamu mau datang?”
“Mumpung liburan paman,” sambil mencium tangan pamannya yang sudah kian renta. “Kenalin ini teman sekelasku paman, Ihsan.” Ihsan pun mencium tangan paman.
“Owh… Ya.. ya… Mari masuk. Paman buatkan minum dulu.”
“Bagaimana kabar bapak ibu? Sehat?”
“Sehat.” Anggap saja sehat.
Jadilah pagi itu menjadi hari yang menyejukkan. Dengan suasana yang asri dan indah ditemani kopi hangat mereka membicarakan banyak hal. Yang jelas, tidak menyangkut keluarga. Namun lebih ke hobby masing-masing. Paman pun tahu hal itu. Hal yang seharusnya tidak terjadi.
Seharian mereka membicarakan hobby mereka dengan ditemani televisi di sudut ruangan. Membicarakan apa pun yang bisa dibicarakan. Hingga akhirnya malam pun tiba. Satu lagi malam yang harus dilewati Haikal. Malam ini begitu indah. Opera malam yang setiap hari digelar siap menghibur hati siapa saja yang sedang pilu merasakan sesaknya logika. Kerlap-kerlip bintang bertaburan di atas sana.
Haikal sedang duduk di teras depan. Menikmati opera malam yang kian menakjubkan. Dia tutup kedua kelopak matanya. Seketika itu seakan ada sesuatu yang membisikinya. Membisikkan sesuatu untuknya. Seketika itu juga dia berlari ke kamar. Mengambil pena dan kertas. Ditulislah sesuatu yang baru saja terbersit di kepalanya itu. Seakan jatuh dari langit begitu saja. Satu halaman habis. Dua halaman. Tiga halaman. Hingga akhirnya sampai enam ratus enam puluh enam halaman. Dengan begitu cepat dia menuliskannya. Dan kata-kata yang dirangkainya sempurna. Tidak perlu disunting ulang. Seakan karya itu sudah menjadi karya yang utuh. Dan diberikan begitu saja kepada anak ini.
Esoknya, dia pergi ke kantor pos dan mengirimkan karyanya itu ke sebuah redaksi. Waktu itu memang ada perlombaan menulis karya fiksi. Berulang kali dia gagal. Dan memang jika kau membaca tulisannya yang dulu, kau mungkin akan mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan guru bahasa indonesianya itu. Namun kali ini dia optimis. Entahlah. Mendadak kepercayaan dirinya tumbuh begitu besar.
Kali ini bukan hanya cerpen, tapi sebuah novel. Novel fiksi tentang khayalannya yang berupa anak seorang iblis dengan segala dunianya yang kelam. Haikal menggambarkannya dengan begitu menarik. Entah dari mana dia mendapatkan semua khayalan itu. Dia menggambarkannya dengan begitu nyata. Seakan dia sudah pernah masuk ke dunia iblis itu dan bertemu tokoh-tokoh dalam novelnya.
Satu pekan setelah itu, seorang petugas pos datang ke rumah paman.
“Surat buat kamu, Haikal.”
Seketika itu haikal yang sedang menikmati kopi hangatnya berlari ke depan rumah.
Seketika itu haikal yang sedang menikmati kopi hangatnya berlari ke depan rumah.
SAYEMBARA KHATULISTIWA. Begitu amplop besar itu berbunyi. Di balik tulisan itu, terdapat sebuah pemandangan pegunungan yang indah saat matahari baru saja bersinar terang.
Ajaib. Haikal menjadi juara pertama sayembara itu. Padahal, itu bukan hanya sayembara sastra sepele. Sayembara yang sangat bergengsi. Sayembara Khatulistiwa. Sayembara yang diikuti oleh hampir seluruh sastrawan muda di berbagai penjuru negeri.
Paman dan Ihsan ikut senang mendengarnya. Piagam penghargaan sudah di tangan Haikal sekarang. Dan kini, ia ditawari kontrak untuk menerbitkan novelnya itu. Semua biaya akomodasi untuk ke ibu kota ditanggung semua oleh penyelenggara.
Ihsan dan Paman melepas kepergian Haikal ke ibu kota dengan bangga. Dan tebakan mereka memang tidak salah. Dia anak yang sangat berbakat.
Novel itu terbit menjadi trilogi. Masing-masing dua ratus dua puluh dua halaman. Dan setiap serinya tertulis Anakassatan, nama penanya. Entah apa yang dipikirkannya saat mencantumkan nama itu. Cetakan pertama langsung habis terjual. Begitu juga dengan cetakan kedua. Ketiga. Dan seterusnya. Haikal yang bergelimangan harta melimpah sampai bingung apa lagi yang harus dibelanjakannya.
Kini dengan uang yang kian mengucur deras Haikal semakin tenggelam dengan dunianya. Produktifitasnya meningkat pesat. Setiap bulan setidaknya satu karyanya diterbitkan di majalah-majalah sastra ternama. Dan semua karyanya tentang dunia kegelapan. Seakan itulah ciri khasnya. Seakan itu menjadi sebuah aliran tersendiri karya sastra.
Namun begitu cepat waktu berlalu. Di suatu pagi, dia bangun. Kepalanya merasa sangat pusing. Di sampingnya terbaring seorang wanita yang dia pun tak ingat namanya. Pukul 09.17 pagi. Dia kembali tidur.
Itulah yang setiap hari dilaluinya. Setiap malam dia selalu pergi ke tempat hiburan malam. Dan dia tak pernah lagi menikmati opera malam yang kian menakjubkan. Setiap pagi, dia tertidur pulas di kamarnya. Dan dia tidak pernah lagi merasakan hangatnya sinar mentari pagi.
Bahkan dia lupa dengan ibunya. Bahkan dia tidak pernah lagi mengunjungi ihsan. Bahkan pamannya yang selalu ramah kepadanya juga tak pernah ia kunjungi.
Hingga di suatu hari. Paman berbaik hati mengunjunginya.
“Assalamu’alaikum.”
Haikal tidak menjawab salam. Hanya menggerutu. Haah… Siapa juga yang siang-siang gini datang. Mengganggu saja.
“Siapa?”
“Aku pamanmu, Haikal.”
“Owh, paman. Masuk paman,” dengan mata memerah dia membukakan pintu pamannya itu. Haikal hanya memakai kaos dan celana pendek.
Seorang wanita yang menutupi tubuhnya dengan selimut menengok ke depan.
“Siapa itu?”
“Ehmm… Bukan siapa-siapa.”
Hatinya miris melihat keponakannya yang kini lesu tak berdaya bersandar di sofa. Apa seperti ini yang kamu inginka? Aku bahkan tidak tega ibumu melihatmu seperti ini.
Haikal mendengarnya. Ya. Itulah kemampuan ajaib yang dimilikinya. Itulah kemampuan yang membuat dia mendapatkan ini semua. Haikal hanya bersungut-sungut tidak peduli. Dia memandangi kalung itu. Ya. Kalung itulah yang memberikan kemampuan itu padanya.
Sampai di suatu malam. Perkataan pamannya tadi siang terngiang-ngiang di telinganya. Entah kenapa perkataan itu terus saja mengikutinya. Bahkan satu botol whiskey tidak bisa mengusirnya.
Di suatu tempat hiburan malam. Dia yang sedang mabuk berat. Frustasi. Apa seperti ini yang kamu inginkan? Kata-kata itu justru semakin jelas.
Datanglah seseorang yang sepertinya dia kenal. Dia mengenakan jubah hitam. Kepalanya sempurna gundul. Orang itu mendekati Haikal. Dia tidak pesan apa-apa, tapi bertender memberikannya segelas minuman.
“Jangan biarkan siapa pun mengatur hidupmu.”
Haikal heran. Orang itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mungkin dibutuhkannya saat ini. Seakan dia juga punya kekuatan yang sama. Wajah keheranan Haikal dibalas dengan senyum hambar.
“Hiduplah sesukamu. Kau berhak mendapatkan kesenangan. Hidup ini untuk dinikmati. Hiduplah sebebas-bebasnya. Jangan biarkan siapapun memperbudak dirimu.”
Jadilah malam itu menjadi malam yang entah seperti apa. Haikal yang kini bimbang. Satu kata dari pamannya ‘Apa seperti ini yang kamu inginkan?’ melawan perkataan orang itu yang semalam tidak ada habisnya dikeluarkan. Jika Haikal tidak meninggalkan orang itu, mungkin sampai pagi pun orang itu tidak akan berhenti bicara.
Pagi ini dia duduk di atas tempat tidurnya. Kali ini tidak ada wanita. Hanya dia dan segala yang dipikirkannya. Seharian hanya itu saja yang dipikirkannya. Dia jadi tidak berselera mau melakukan apa pun. Hanya berdiam diri menatap kosong di dalam kamarnya. Bahkan satu pekan penuh dia hanya seperti itu. Dia juga tidak berselera datang ke tempat hiburan malam. Hanya berdiam diri. Sendiri. Ditemani sepi.
Sampai akhirnya dia memutuskan untuk bertindak. Satu tindakan akan sangat berati untuknya. Dia memutuskan untuk mengakhiri semua mimpi buruknya. Kembali menuju sesuatu yang pasti. Pagi itu dia berendam lama. Membersihkan semua kotoran yang selama ini hinggap di tubuhnya. Selesai membersihkan tubuhnya, dia beranjak. Mobil yang terparkir di halaman rumah dibunyikannya. Dengan gerakan pasti, dia injak gas dan memacu mobilnya menuju tempat itu. Tempat di mana semua ini berawal.
Sampailah dia di sebuah gang kecil. Dia memarkir mobilnya di samping jalan raya. Dia berjalan menyusuri gang kecil itu. Melewati semak belukar. Semakin dalam masuk ke dalam hutan. Namun dia tetap tidak menemukan rumah itu. Terus saja dia telusuri sampai akhirnya jalan buntu yang dia temui. Aneh. Padahal malam itu hanya beberapa langkah saja sudah sampai ke rumah itu.
Haikal kembali ke mobilnya. Memacu mobilnya meninggalkan gang kecil itu. Apa yang harus ku lakukan? Dia berhenti di sebuah jembatan. Kalung itu dilepasnya. Dia memandangi kalung itu yang kini berkilauan ditempa sinar matahari. Dilemparnya kalung itu. Kalung itu seketika jatuh ke sebuah sungai di bawah jembatan. Ada cipratan kecil di bawah sana. Sirna sudah semua yang dia dapatkan. Dia harus memulai semua pelan-pelan dari awal lagi.
Dia kini memandangi dadanya yang kini… Tidak. Tidak mungkin. Kalung itu masih bergantung manis di lehernya. Seketika itu dia memutus kalung itu dan membuangnya lagi. Tidak. Aku tidak menginginkanmu lagi. Pergilah. Dia terus mencoba membuang kalung itu. Aku mohon. Pergilah dariku. Tolong. Kali ini dia menangis sambil terus mencoba membuang kalung itu. Ayolah. Pergilah. Pergilah dari kehidupanku. Percuma. Bahkan tangisnya yang semakin menjadi tidak ada gunanya. Kalung itu tetap bergelantungan di lehernya.”PERGI! PERGILAH DARI KEHIDUPANKU!! Aku mohon. Pergilah. Aku mohon,” Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia tidak berdaya. Kini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Truk melewatinya. Menderu tidak peduli. Begitu juga dengan Bus Kota. Truk lagi. Mobil. Truk. Bus lagi. Puas dengan menjerit-jerit kini ia diam. Dengan terus tersedu-sedu, dia memandang kosong ke depan. Satu lagi truk melewatinya. Menghalangi pandangannya. Tiba-tiba setelah truk itu lewat dan meninggalkannya, muncul orang itu. Orang yang berjubah hitam. Kepalanya gundul sempurna. Menghampirinya. Apa lagi yang kau inginkan?
Aku ingin kau mengambilnya kembali. Haikal menjulurkan tangannya. Kalung itu dalam genggamannya sekarang.
Apa yang terjadi? Bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu? Kau sudah mendapatkan semuanya. Orang itu hanya diam dengan mukanya yang agak keheranan dengan sedikit senyum yang kini terasa senyum jahat di mata Haikal.
Tidak. Kau salah. Bukan ini yang aku inginkan. Dan aku pun sekarang baru menyadari hal itu. Aku ingin hidup seperti apa yang ditakdirkan kepadaku. Itulah yang aku inginkan. Haikal dengan wajahnya yang tegas tetap diam memandangi orang itu.
Orang itu hanya tersenyum. Senyum jahat. Kau akan menyesal. Orang itu menengadahkan tangannya menerima kalung itu kembali.
Cukup kau yang akan menyesal nantinya. Jangan bawa-bawa aku. Haikal memacu mobilnya meninggalkan jembatan itu meninggalkan orang itu. Orang itu terus memandangi Haikal yang kian menjauh meninggalkannya. Dia hanya tersenyum. Jubah hitamnya berkelebatan mengikuti arah angin.
Haikal dengan terus memacu mobilnya, menoleh sejenak. Dia sudah sirna. Sudah lenyap entah ke mana. Dia kembali fokus menyusuri jalan ke depan. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dia terbatuk. Berdarah. Dengan terus memacu mobilnya, dia menuju rumah Paman dengan nyawa yang masih tersisa.
Setibanya di rumah Paman, dia hanya berdiri di depan pintu. Terbatuk lagi. Berdarah.
“Haikal.”
“Paman,” Haikal hanya tersenyum. Dan kemudian dia terjatuh tak sadarkan diri. Seketika itu juga, Paman menghampirinya.
Haikal terbangun. Dia membuka kembali kelopak matanya. Ruangan yang serba putih. Apa aku sudah di…
“Haikal. Bagaimana keadaanmu?” Paman yang dari tadi di sampingnya bertanya.
Haikal hanya tersenyum.
Kanker paru-paru telah menggerogoti tubuhnya. Stadium tiga. Dengan semua tabungan yang dimilikinya, dia mencoba melawan penyakit itu. Semua Paman yang mengurus. Setiap hari berbulan-bulan Paman setia menunggui Haikal. Kini keadaannya sudah membaik.
Tabungannya habis untuk biaya penyembuhannya. Dia harus membayar mahal atas semua yang telah dia lakukan. Dia juga berbulan-bulan tidak produktif lagi. Penggemar-penggemarnya sudah lama melupakannya. Sastrawan muda lain bergantian menggantikan posisinya.
“Ini Paman bawain buah-buahan. Apa kamu mau? Sini tak kupasin. Kamu inget nggak pas terakhir ke rumah paman? Dulu itu kan pohon di depan rumah baru…”
Jadilah ruangan putih itu menjadi tempat celotehan paman. Berusaha menghidur keponakannya yang kini terbaring tak berdaya.
“Jadi bebaskan imajinasimu. Satu-satunya yang kamu kuasai hanyalah imajinasimu. Maka jika kau ingin bahan cerita yang menarik, kau harus bebaskan imajinasimu sebebas-bebas mungkin.”
Haikal tampak hikmat mendengarkan materi yang dibawakan seorang anak muda. Hari ini hari pertamanya kuliah di sebuah universitas swasta kecil di dekat rumah pamannya. Dengan pekerjaannya menjadi editor di sebuah redaksi koran lokal, dia membiayai kuliahnya sendiri.
Aku pulang ibu. Haikal mencium kening ibunya yang menatap kosong ke depan dengan tubunya yang bersandar di kursi roda.
“Udah pulang kamu, kal?” Paman dengan ringan menyiapkan makan siang.
“Iya. Hari ini hanya pengantar saja.”
“Ihsan nanti jadi ikut nggak?”
“Jadi. Katanya dia mau ke sini. Nanti kajiannya di mana, sih?”
“Ya di rumah Kyainya itu to… Siapa itu namanya…”
“Ya di rumah Kyainya itu to… Siapa itu namanya…”
Jadilah hari itu menjadi langkah awal Haikal mengarungi takdirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar