Langit Malam
Ada banyak bintang yang ada di
atas sana
Namun hanya ada satu bulan yang
tergantung cantik tiada banding
Akhir-akhir ini langit selalu
mendung
Seakan awan hitam sengaja
menutupi kemelut perang yang sedang terjadi di atas sana
Atau mungkin menyembunyikan
langit malam yang tak lagi indah
Atau mungkin sedang diadakan
pertemuan penting untuK membahas apa rencana langit selanjutnya
Aku tak mengerti
Dan mungkin tak akan pernah
mengerti
Berdialog Dengan Keadaan
Aku tahu
Dengan duduk termenung di sini
tak akan mengubah apapun
Tapi setidaknya tak ada yang
melihatku menangis
Ya
Aku memang laki-laki lemah
Aku terkadang bertanya-tanya,
“Apa yang keadaan ini harapkan dari laki-laki lemah sepertiku?”
Mungkin jika aku bertanya
seperti itu, dia juga akan bertanya,
“Lalu keadaan seperti apa yang kau harapkan?”
Phoenix
Langit malam tampak tak seperti
biasanya. Kegelapan begitu pekat menyelimuti. Awan hitam yang tersamarkan
olehnya menutupi gemerlap bintang di sebaliknya. Namun tak sanggup
menyembunyikan cahaya bulan yang cantik jelita dengan rona keemasan yang
terkadang muncul di antara lubang-lubang awan. Seakan sengaja membuat cahaya
itu tak selalu tampak menggoda siapa saja yang ingin melihatnya.
Dari celah jendela sebuah rumah,
keluar seekor burung cantik dengan sayap yang lentik dan ekor yang
berumbai-rumbai panjang. Burung itu seperti tercipta dari cahaya. Seluruh
tubuhnya bersinar putih keemasan. Dia terbang dengan begitu anggun menembus
kegelapan malam. Mengepakkan sayapnya yang lentik dengan pelan namun pasti. Semakin tinggi, semakin
tegak tubuhnya. Tegak lurus menuju tepat menuju langit malam. Kepakan sayapnya
berhenti. Kini dia telungkupkan sayapnya dan semakin cepat meluncur melebihi
kecepatan cahaya.
Lapisan demi lapisan awan hitam
dia tembus seketika. Angin-angin malam yang sering membuai, tak lagi bisa
menggoda burung itu untuk mengurangi kecepatannya. Semakin tinggi semakin
kencang angin menerpanya. Kini bukan angin buaian. Namun angin ganas yang siap
menerpa siapa saja yang berurusan dengannya. Burung itu berusaha untuk tetap
bertahan. Namun terpaan angin terlalu besar. Burung itu kembali mengepakkan
sayapnya bersusah payah menjaga keseimbangannya.
Belum selesai dengan terpaan
angin yang mengganas, burung itu terbentur awan hitam pekat yang begitu tebal.
Dia harus menanggung massa air yang semakin membasahi sayapnya. Memenuhi setiap
jengkal tubuhnya. Bulu-bulunya sempurna basah oleh air yang begitu dingin
menusuk tulang, bahkan sampai membekukan organ-organ dalam. Petir
menyambar-nyambar. Cukup untuk menggetarkan hati kecil burung itu. Cukup untuk
membuatnya menyerah.
Namun burung itu tak menyerah.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia terus terbang menuju langit. Karena dia
yakin. Karena dia percaya. Dia percaya akan janji-janji di atas sana. Dia terus
terbang ke atas dan ke atas. Sampai akhirnya, dia berhasil keluar dari awan
hitam pekat sinar keemasan yang begitu hangat menyambutnya dengan penuh bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar