Rabu, 09 November 2011

Sajak-Sajak Kegelapan Malam


Langit Malam
Ada banyak bintang yang ada di atas sana
Namun hanya ada satu bulan yang tergantung cantik tiada banding
Akhir-akhir ini langit selalu mendung
Seakan awan hitam sengaja menutupi kemelut perang yang sedang terjadi di atas sana
Atau mungkin menyembunyikan langit malam yang tak lagi indah
Atau mungkin sedang diadakan pertemuan penting untuK membahas apa rencana langit selanjutnya
Aku tak mengerti
Dan mungkin tak akan pernah mengerti

Berdialog Dengan Keadaan
Aku tahu
Dengan duduk termenung di sini tak akan mengubah apapun
Tapi setidaknya tak ada yang melihatku menangis
Ya
Aku memang laki-laki lemah
Aku terkadang bertanya-tanya, “Apa yang keadaan ini harapkan dari laki-laki lemah sepertiku?”
Mungkin jika aku bertanya seperti itu,  dia juga akan bertanya, “Lalu keadaan seperti apa yang kau harapkan?”
 Phoenix
Langit malam tampak tak seperti biasanya. Kegelapan begitu pekat menyelimuti. Awan hitam yang tersamarkan olehnya menutupi gemerlap bintang di sebaliknya. Namun tak sanggup menyembunyikan cahaya bulan yang cantik jelita dengan rona keemasan yang terkadang muncul di antara lubang-lubang awan. Seakan sengaja membuat cahaya itu tak selalu tampak menggoda siapa saja yang ingin melihatnya.
Dari celah jendela sebuah rumah, keluar seekor burung cantik dengan sayap yang lentik dan ekor yang berumbai-rumbai panjang. Burung itu seperti tercipta dari cahaya. Seluruh tubuhnya bersinar putih keemasan. Dia terbang dengan begitu anggun menembus kegelapan malam. Mengepakkan sayapnya yang lentik dengan  pelan namun pasti. Semakin tinggi, semakin tegak tubuhnya. Tegak lurus menuju tepat menuju langit malam. Kepakan sayapnya berhenti. Kini dia telungkupkan sayapnya dan semakin cepat meluncur melebihi kecepatan cahaya.
Lapisan demi lapisan awan hitam dia tembus seketika. Angin-angin malam yang sering membuai, tak lagi bisa menggoda burung itu untuk mengurangi kecepatannya. Semakin tinggi semakin kencang angin menerpanya. Kini bukan angin buaian. Namun angin ganas yang siap menerpa siapa saja yang berurusan dengannya. Burung itu berusaha untuk tetap bertahan. Namun terpaan angin terlalu besar. Burung itu kembali mengepakkan sayapnya bersusah payah menjaga keseimbangannya.
Belum selesai dengan terpaan angin yang mengganas, burung itu terbentur awan hitam pekat yang begitu tebal. Dia harus menanggung massa air yang semakin membasahi sayapnya. Memenuhi setiap jengkal tubuhnya. Bulu-bulunya sempurna basah oleh air yang begitu dingin menusuk tulang, bahkan sampai membekukan organ-organ dalam. Petir menyambar-nyambar. Cukup untuk menggetarkan hati kecil burung itu. Cukup untuk membuatnya menyerah.
Namun burung itu tak menyerah. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia terus terbang menuju langit. Karena dia yakin. Karena dia percaya. Dia percaya akan janji-janji di atas sana. Dia terus terbang ke atas dan ke atas. Sampai akhirnya, dia berhasil keluar dari awan hitam pekat sinar keemasan yang begitu hangat menyambutnya dengan penuh bangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar