Selasa, 15 Maret 2011

Saat Senja Mulai Sirna


Matahari kian beranjak dari peraduannya. Siluet cahaya membentang sepanjang mata memandang. Pertanda nikmatNya segera datang. Dan kau tahu apa yang akan kau lihat? Alas-alas syurga. Yang dengan melihatnya saja akan membuat hati tenteram. Melihat taburan gemerlap cahaya. Cahaya yang tak pernah berhenti bersujud kepadaNya. Sembari menghibur hati anak adam dengan opera malamnya yang menakjubkan. Menunjukkan kasih sayangNya. Menunjukkan letak-letak cintaNya. Untuk mengarungi samudera kahidupan yang maha luas yang seakan tak pernah bosan membuat keluh kesah tiada henti dengan logikanya yang kian menyesakkan hati.
“Assalamu’alaikum,” pesan singkat meluncur dari balik satelit di luar angkasa sana menuju sebuah handphone dengan kecepatan sepersekian detik. Berdering pelan.
Segera tangan kanan seorang wanita berkerudung rapi menyambar handphone yang dari tadi di sampingnya itu. Tangan kiri segera mengikuti. Mengambil kuda-kuda. Lantas merebahkan punggung pada pangkuan kursi kayu jati berplitur cantik mengkilat.
“Wa’alaikumsalam,” segera senyum tulus mengiringi pesan singkat itu begitu tahu nama yang tersimpan rapi di phonebook –yang mungkin juga tersimpan rapi di hatinya- menampakkan dirinya. Tampak nama itu diletakkan di urutan paling atas dan paling janggal. Bukan. Bukan janggal. Spesial. Ya. Itu mungkin lebih tepat.
Wajah manisnya tampak lebih cerah dengan sinar redup dari ufuk barat. Juga dengan senyum yang kian mengembang. Entahlah. Mungkin jika tak ada sinar itu wajah yang secerah apapun akan tampak kusam. Tapi sinar itu selalu datang entah dia sadari atau tidak.
Jadilah siluet cahaya sore itu menjadi saksi perbincangan mereka berdua. Mungkin jika kau ditakdirkan menjadi sebuah siluet cahaya kau akan tertawa melihat tingkah dua anak adam ini.
Sementara itu seseorang di luar sana sedang duduk bersimpuh takzim mengingat Sesuatu yang jika kau mengingatNya kau akan semakin tahu letak kesempurnaanNya. Suara lirih mengantarkannya ke sebuah kenikmatan yang melebihi kenikmatan dunia seisinya. Sebuah ketentraman hati. Mungkin jika kau tidak merasakannya sendiri kau tidak akan benar-benar mengerti.
Adzan berkumandang menghentikan perbincangan sore itu. Satu per satu yang hatinya masih cukup kuat untuk menautkannya satu sama lain beranjak dari persinggahannya masing-masing. Menuju sebuah surau kecil. Muadzin yang sudah terlampau tua mengumandangkan panggilan Rabbnya itu dengan suara parau. Namun keikhlasannya tetap tersebar ke seluruh penjuru dusun. Cukup untuk memanggil orang-orang yang masih setia mencari ridhoNya.
Segera kerlap-kerlip cahaya kian tampak kian menawan. Sayapnya mengembang. Bersinar terang. Berkelebatan di luar sana. Seakan mengatakan, “Ayolah… Kau pasti bisa menjalani ini semua. Bukankah semua ini hanya bagian kecil dari nikmat hakiki yang kau dapat kelak? Dengan apa lagi aku harus membuktikan? Bukankah semua sudah jelas? Ayolah… Kau pasti bisa.”
Opera malam yang menakjubkan. Ya. Sangat menakjubkan. Kau mungkin bisa merasakannya jika saja hatimu tidak terlalu kebas.
Dari balik surau terlihat sebuah pesarean. Selalu saja ada tanah kosong di pesarean. Entahlah. Walaupun selalu saja ada yang beranjak dari muka bumi tetap saja tanah kosong di pesarean selalu ada. Mungkin karena orang-orang yang beranjak dari muka bumi kebanyakan tidak membutuhkan banyak tempat. Sempit saja sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar