Sabtu, 12 Februari 2011

Setetes Embun Firdaus

Prolog

Untuk kesekian kalinya tetes pertama turun. Dilanjutkan tetes kedua. Ketiga. Dan tetes-tetes berikutnya saling susul-menyusul semakin deras dan semakin deras. Sepersekian detik genting, jalan, pohon telah basah kuyup. Entahlah apa maksud langit kali ini menurunkan titik-titik air ini. Mungkin inilah rahasia langit yang tak akan pernah bisa kita pecahkan.

Tahukah kau kawan siapa pengecualian dari 'kita' yang ku maksud? Dialah sang penggenggam hujan. Yang namanya diagungkan di berbagai belahan dunia. Orang yang paling berpengaruh sepanjang masa. Yang menjadi tonggak penting peradaban hebat tak terkalahkan. Yang berhasil membentuk generasi emas dengan kasih sayangnya. Kelembutannya. Kejernihan nuraninya.


Salam untuknya tak pernah berhenti tercurahkan kepadanya. Dialah yang menyatukan hati kami. Walaupun kini tiada lagi tempatnya di dunia, namun di hati kami dia tetap hidup. Senantiasa membimbing kami dari tutur katanya yang indah.


Dialah sang pembawa risalah. Sang pembawa berita kebenaran. Hatinya selalu terjaga. Jiwanya selalu suci. Dialah sang penggenggam hujan. Yang tahu tentang misteri langit. Kenapa hari ini untuk kesekian kalinya hujan turun membasahi bumi.




Jangan biarkan tetesan itu terbuang percuma...


Ya kawan. Jangan biarkan tetesan itu terbuang percuma. Karena tetesan embun ini bukan tetesan embun biasa. Tetesan Embun Firdaus. Ya. Tetesan embun dari surga firdaus. Surga yang jika kau masuk di dalamnya perjuangan yang dulu kau lakukan di dunia tak akan berarti dibandingkan nikmat yang kau dapatkan. Bidadari-bidadari, sungai-sungai, yang sudah jelas tergambar hanya sepersekian saja. Akal kita tak akan mampu membayangkan betapa luar biasa kenikmatan yang ada di dalamnya.

Begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang Pencipta kita. Kita diizinkan mencicipi surgaNya selagi masih ada di dunia. Bahkan kita belum bisa melakukan apapun untukNya tetesan embun firdaus itu sudah menerpa wajah kita. Begitu sejuknya sehingga bisa menentramkan hati dan jiwa.


Sadarkah kita akan tetesan embun itu? Sadarkah kita kalau tetesan embun itu datang setiap hari? Sadarkah kita jika kita bisa merasakannya nafas kita pun tak akan tersengal menghadapi logika yang kadang menyesakkan?

Menyadarinya pun tak mudah kawan. Apalagi bisa merasakannya. Namun bila kau merasakannya kawan, kau tidak akan pernah merasa sia-sia dilahirkan di dunia dengan kefanaan yang berada di dalamnya.


Baiklah kawan. Kalau kau ingin menyadarkan dirimu akan tetesan embun itu mari kita tanya seseorang. Seseorang yang tahu rahasia kenapa hari ini hujan turun. Begitu juga dengan hujan sebelumnya. Dan sebelum sebelumnya. Dan sebelum sebelumnya lagi. Yang tahu rahasia langit. Sang Penggenggam Hujan.


Jauh sebelum hari kau dilahirkan di dunia dia yang salam untuknya menggema di seluruh negeri memberitahukan kepada shahabat-shahabatnya. Dengan perangainya yang menawan. Dengan tutur katanya yang manis. Seakan gambaran surga firdaus sudah tergambar jelas di matanya.


Sungai di surga firdaus pun merindukannya. Ya. Tak akan ada habisnya jika aku terus menggambarkan sosok mulia ini kawan.


Tentu sekarang kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang. Mencari tahu. Mencari tahu apa saja yang disampaikannya. Bagaimana dia berperilaku.Maka jika kau sudah mencari tahu mungkin kau bisa menciptakan kata-kata yang lebih indah lagi untuk menggambarkannya dan menyampaikannya kepada kawanmu yang lain.


Sesuatu yang Kecil...


Pertama yang harus kita sadari bahwa tetes embun ini tetaplah tetes embun. Sama seperti yang kita temui setiap pagi. Ya. Memang hanya sekecil itu. Tidak lebih. Maka untuk mendapatkannya pun dengan sesuatu yang kecil pula.


Kedua yang juga harus kita sadari bahwa tetes embun ini rutin datang setiap pagi. Sama juga seperti tetes embun yang setiap pagi rutin kita temui. Maka untuk mendapatkannya pun juga dengan sesuatu yang rutin.


Itulah yang harus kita lakukan untuk dapat menyadari tetesan embun itu. Tetesan embun yang tidak sembarang oeang bisa merasakannya. Hanya yang mendapat hidayah dariNya. Hanya yang hatinya masih dapat mempercayaiNya.


Amal yang kecil namun terus-menerus. Sangat sederhana. Hanya itu. Tidak lebih. Kenapa pula kita harus melakukan amal yang besar? Padahal hanya akan menimbulkan kejenuhan. Kemampuan kita terbatas kawan. Dan dengan peningkatan yang konstan akan menuntun kita menuju firdaus yang sebenarnya.


Lapangkan Hatimu...


Memang tetes embun itu hanya kecil. Namun dengan benda yang kecil itu Dia Yang Maha Penyayang sudah melimpahkan nikmatnya yang tiada tara luar biasa agungnya.


Agar kau bisa merasakannya, lapangkanlah hatimu kawan. Agar cukup lapang untuk merasakan nikmatNya yang tiada tara luar biasa agungnya itu. Dan kalau seandainya cobaan menghampirimu tak akan bisa membuatmu sesak. Karena cobaan yang Dia berikan tidak ada apa-apanya kalau dibanding dengan nikmatNya.


Epilog


Maka jangan biarkan tetesan embun itu terbuang percuma kawan. Dengan sesuatu yang kecil lapangkanlah hatimu. Aku tahu aku tak bisa menyampaikan maksudku ini seindah dia yang menyampaikan. Maka rasakanlah indah kata-katanya dengan memahami ayat-ayat yang telah diturunkan kepadanya. Kau akan mengerti apa yang kumaksudkan ini kawan. Kau akan tahu dengan cara yang paling indah. Selamat berjuang kawan. Kami selalu mendoakanmu agar kau cepat merasakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar