Senin, 11 April 2011

Kekuatan Tiap-Tiap Kata

Kata-kata bukan hanya kumpulan huruf-huruf. Kumpulan huruf-huruf yang dijadikan satu sehingga membentuk suatu bunyi. Bukan hanya itu. Kata-kata mempunyai kekuatan. Kekuatan yang bahkan kau bisa mengendalikan dunia dengan kata-kata itu. Bahkan kalau tidak ada kata-kata, tidak akan ada peradaban, revolusi, reformasi, atau evolusi.

Agar kata-kata itu bisa berguna sebagaimana mestinya, perlu sebuah media. Dan media dari dekade satu ke dekade yang lain sudah banyak berkembang Mulai dari media cetak sampai media elektronik. Dan agar kata-kata itu berperan sebagaimana aslinya, kata-kata itu didasarkan pada penelitian, riset, survei, yang mungkin memakan waktu yang cukup lama.

Akibatnya, ilmu pengetahuan berkembang. Dan ilmu pengetahuan akhir-akhir ini berkembang lebih pesat seiring dengan kemajuan teknologi. Ilmuwan dari berbagai belahan dunia saling bertukar pikiran. Buku-buku yang memuat argumen-argumen mereka diterbitkan, diterjemahkan ke sana kemari. Dan tentunya tidak sembarangan pabrik percetakan menerbitkan buku. Hanya buku yang berkualitas yang diterbitkan.

Dari sini kita bisa melihat bahwasanya dunia sedang ramai bertukar pikiran menyalurkan ilmu -selain ramai hiruk pikuk kegiatan ekonomi dan politik. Kita pun bisa terlibat di dalamnya. Dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat kita dengan mudah terlibat di dalamnya. Namun apakah selama ini kita sebagai pengguna teknologi sudah termasuk orang yang terlibat dalam hiruk pikuk pertukaran pikiran tersebut?

Tidak dapat dipungkiri pertukaran pikiran adalah hal yang positif. Sangat berguna. Bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Apa lagi nilai dalam hidup kita selain berguna bagi orang lain? Karena tanpa sadar mungkin orang lain banyak memberikan sesuatu kepada kita namun belum ada yang bisa kita berikan buat mereka. Kita perlu menyadari bahwasanya kita hidup tetap butuh pertolongan orang lain.

Selain berguna bagi orang lain, pun juga berguna untuk diri kita sendiri. Kita perlu ilmu pengetahuan. Untuk menjalani aktivitas kita. Bahkan sejak kita dilahirkan di dunia, kita sudah mulai belajar setidaknya dari orang terdekat kita. Dan sampai akhir hayat, kita dituntut untuk terus belajar. Pola pikir yang agaknya melenceng perlu diluruskan. Dengan apa kita meluruskannya? Apa lagi kalau bukan belajar. Mencari ilmu pengetahuan. Bukan hanya dicari, namun juga dipahami, diresapi, dan direalisasikan. Maka seperti inilah kita melibatkan diri dalam hiruk pikuk pertukaran ilmu pengetahuan.

Jelas sekali bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Kurikulumnya masih perlu banyak pembenahan. Walaupun sudah ada perbaikan sistem yang cukup baik, namun untuk mencetak sumber daya manusia yang kompeten masih jauh. Menurut saya, pihak pemerintah yang bertindak sebagai penyelenggara masih menutup mata dengan sistem-sistem modern yang jauh lebih efektif. Pihak swasta yang ikut melibatkan diri dalam penyelenggaraan pendidikan terbukti dengan menerapkan sistem yang sudah modern tersebut bisa mencetak sumber daya manusia yang kompeten.

Meri kita tengok sedikit tentang sistem perekonomian di Indonesia. Sistem perekonomian di Indonesia sudah mulai berkembang. Karena memang ilmu ekonomi yang terus berkembang, pemerintah menerimanya dengan cukup baik. Pemerintah sudah banyak bekerja sama dengan pihak swasta. Dan sistem-sistem yang modern pun diterapkan. Akibatnya, dengan sistem yang modern, bisa memajukan perekonomian di Indonesia.

Dunia pendidikan belum bisa menerapkan apa yang sudah diterapkan dalam dunia perekonomian. Terbukti dengan berkembang pesatnya bimbingan belajar di berbagai daerah. Karena memang sekolah belum mampu mencerdaskan. Akhirnya, masyarakat memilih bimbingan belajar yang notabene swasta untuk mencerdaskan anak-anak mereka.


Fakta lain yang mendukung pernyataan tersebut adalah ketidakpercayaan universitas pada pihak sekolah dalam menyeleksi calon mahasiswanya. Sampai sekarang pun belum ada pihak universitas yang percaya terhadap hasil Ujian Nasional, yang notabene ujian yang paling fear yang diadakan pemerintah.

Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Indonesia sudah mempunyai otoritas tersendiri. Maka dari itu banyak universitas-universitas yang berkembang dengan caranya sendiri-sendiri dan berhasil mencetak sumber daya manusia yang kompeten.

Maka dari itu, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita hanya punya umur yang pendek. Berpuluh-puluh tahun mungkin akan dilalui dunia pendidikan kita untuk membenahi sistemnya. Kita harus mensiasatinya. Kita tetap butuh ilmu pengetahuan secara terus-menerus tanpa henti.

Maka mulailah dengan membaca. Bahkan ayat pertama yang turun kepada Rasulullah salallahu'alaihi wa salam adalah iqro' (bacalah). Tanpa ilmu pengetahuan kita akan pontang-panting menjalani hidup. Dan satu-satunya jalan menambah ilmu pengetahuan adalah membaca. Mungkin inilah jawaban dari semua kegelisahan. Bacalah. Maka kau akan ikut terlibat dalam hiruk pikuk pertukaran pikiran. Hasil riset selama bertahun-tahun yang dilakukan oleh ilmuwan bisa kita dapatkan dengan membaca. Ya. Dan inilah kekuatan dari kata-kata itu.

Membaca adalah langkah pertama yang harus kita ambil. Setidaknya sampai di sini kita sudah bisa mengatasi segala permasalahan dalam hidup kita. Dan jika kita sudah tenggelam dalam budaya membaca, maka kita akan berterimakasih kepada ilmuwan-ilmuwan yang membantu kita dengan membantu orang lain lewat tulisan-tulisan kita -tentunya dengan tetap terus membaca. Maka inilah pahala yang terus mengalir walaupun anak adam telah dikuburkan. Ilmu yang bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar